Back To Me - Aurélie Moeremans

 

Screenshot from E-Book Back To Me


Tuhan selalu mengarahkanku kepada hal-hal baik. Baru kemarin tahu jika Aurélie di tanggal 8 Agustus 2026, pukul 00:00 akan merilis Memoir ke-2 berjudul Back To Me. Aku langsung excited dan memasang alarm untuk bangun di jam 00:00 agar bisa mendownload memoir yang ia bagikan secara gratis.

Setelah dua hari selesai membaca Back To Me. Aku merasa dipeluk. Aku suka Back To Me karena tidak seberat Broken Strings. Banyak bagian-bagian yang relate dengan diriku sebagai penyintas.

Pola people pleaser yang sudah terbentuk sejak masa kecil, trauma-trauma yang sudah terbentuk sejak masa kecil, pola-pola yang menyeret penulis ke dalam masalah yang sama atau penulis merasa menarik orang-orang yang salah di kehidupan penulis.

Aurélie menuliskan bahwa pulih bukan berarti benar-benar sembuh seratus persen. Penyembuhan adalah perjalanan. Menerima segala bentuk kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri, mencintai diri sendiri adalah bentuk pulih yang sebenarnya.

Terkadang masih ada trigger meski sudah terapi. Namun, dari hasil terapi penulis bisa mengelola emosi dengan pemaknaan yang lebih positif ketika ada trigger yang muncul, bisa meregulasi emosi dan tidak melampiaskan emosi tersebut kepada orang lain.

Apa yang pernah terjadi pada diri penulis adalah akumulasi dari pola-pola yang sudah terjadi sejak kecil. Penulis merasa menarik orang yang salah, pola-pola tersebut yang penulis perbaiki agar tidak lagi menarik orang yang salah atau hal yang sama meski dalam bentuk yang berbeda.

Setelah mengubah pola-pola lama dengan kebiasaan baru yang lebih baik, pelan-pelan pola-pola lama akan berubah. Penulis menjadi menarik orang-orang positif dalam hidupnya. Pandangan penulis pun menjadi berubah lebih positif dari sebelumnya.

Terima kasih Aurélie Moeremans, keberanianmu untuk mengungkapkan pengalaman tersulitmu kepada dunia menginspirasiku sebagai penyintas untuk berani bersuara.

Aku paham, komentar orang lain tidak dapat kita atur. Aku tidak pernah merasa Aurélie sedang menjual kesedihannya kepada dunia. Justru, aku terinspirasi karena tidak semua penyintas berani menyuarakan apa yang seharusnya disuarakan.

Kami sebagai orang biasa saja masih menimbang-nimbang, memikirkan jika kami belum cukup kekuatan, beban mental yang harus ditanggung, stigma yang masih kuat di sebagian masyarakat meski kini banyak generasi yang memiliki pemikiran terbuka. Hal-hal tersebut yang membuat penyintas dilema untuk bersuara.

Namun, aku pribadi sangat mengapresiasi korban atau penyintas yang berani bersuara. Aku tahu hal tersebut tidak mudah. Kalian keren!

────୨ৎ────

Aku sudah memposting review ini di Instagram pada 10 Agustus 2026. Postingan tersebut mendapat notice dari penulis sebagai bentuk apresiasi.













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans

Review Pulang - Leila S. Chudori

Dua Puluh Lima