Dua Puluh Lima

 

Source: Personal doc.


Tahun ini, umurku genap dua puluh lima. Benar-benar tidak terasa. Hidup berjalan begitu cepat, bukan? Atau akunya saja yang terbiasa hidup autopilot di usia ini. Tidak ada sesuatu yang spesial menurutku. Hanya umur yang bertambah. Namun, aku mulai merasa, kretek-kretek tulangku yang semakin sering, pegal-pegal di badan karena jarang olahraga. Seakan-akan menyadarkanku bahwa usiaku bertambah tua. Jujur, secara pemikiran aku masih merasa di usia awal dua puluhan, aku tidak merasa aku sedewasa itu dalam hal berpikir. Hanya saja tubuh berkata lain.

Apa semua orang yang menginjak usia dewasa memiliki pemikiran seperti ini? Merasa secara pemikiran belum dewasa, namun tubuh menunjukkan sebaliknya. Aku senang di umur-umurku saat ini, masih banyak orang yang mengira aku masih sekolah atau kuliah. Entah, mereka benar-benar tidak tahu usiaku atau hanya basa-basi saja. Siapa juga yang tidak mau dianggap muda ketika umur sudah bertambah tua. Bahkan sekelas lansia saja suka meski tahu kalau itu hanya bualan belaka.

Orang yang pertama kali mengirimiku ucapan selamat ulang tahun adalah Mama dari sahabatku. Hubunganku dengan keluarga sahabat memang sangat dekat. Mereka sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Mama sahabatku juga sudah kuanggap sebagai Mamaku sendiri. Selama aku remaja sampai saat ini, beliau seperti wakil dari ibu kandungku. Puji syukur, ibu kandungku masih hidup. Memang kami tidak bisa sedekat itu karena beban kehidupan.

Aku biasa memanggil Mama sahabatku dengan sebutan Mama, sedangkan ibu kandungku dengan sebutan Mamak. Beda tipis, ya. Aku mempunyai sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Kami sahabatan sejak SMP. Sebut saja dia Ara. Ara memiliki seorang kakak perempuan, sebut saja dia Reo. Aku dan sahabatku adalah orang Jawa, keluarga kami adalah orang Jawa. Uniknya, meski orang Jawa, Mama dan Kak Reo sering dikira Cindo karena kulit mereka putih seperti Cindo. Sedangkan Ara tidak begitu berkulit putih, dia berkulit sawo matang seperti Ayahnya.

Di hari ulang tahunku, Mama memberiku pesan di WhatsApp, ucapan selamat ulang tahun.

Mama: Shalom...selamat pagi anakkuuu...

Mama: Selamat ulang tahun...semoga panjang umur...sehat sll..banyak berkat..

Mama: dan semoga kasih karunia Allah menyertaimu di sepanjang umur hidupmu...

Mama: dan hanya kemurahan dan kebajikan Allah saja yg memberkati hidupmu sampai ke anak cucumu...Amin 🙏

If: Shalom ma, terima kasih banyak ma 🥹. Amin, doa baik kembali ke mama dan keluarga 🫂🤍.

Mama: Amin 🙏

Mama: besok ke rumah yaa...mama buatkan sambelan...kita sarapan bareng" yaa..😊

If: Oke mama 👍🏻:D

Mama beragama Kristen Protestan. Sudah biasa beliau jika mengirimiku pesan dengan mengetik Shalom sebagai awalan. Keluarga Ara adalah keluarga multikultural. Ayah Ara beragam Islam, Ara dan Kak Reo beragama Islam. Keluarga Ara multikultural dari pihak Mama dan Ayah. Sudah hal biasa terjadi pernikahan beda agama dalam keluarga mereka. Aku pribadi dengan keluargaku beragama Islam.

Begitulah pesan dari Mama di WhatsApp. Kebetulan tepat di hari ulang tahunku, aku minta tolong Mama untuk dibuatkan masakan sambelan. Sambelan biasa disebut juga dengan lalapan. Aku sudah chat Mama sebelum hari ulang tahunku, tapi aku tidak berkata aku minta tolong dibuatkan sambelan untuk merayakan ulang tahunku. Aku hanya bilang bahwa aku sedang ingin saja. Hari Sabtu dan Minggu aku libur kerja. Hari ulang tahunku sudah terlewati ketika aku libur kerja. Dalam hati, aku memang ingin merayakan ulang tahunku dengan makan sambelan. Masakan Mama itu enak banget tahu.

Di siang hari, Ara juga mengucapkan selamat ulang tahun. Ara sering lupa kapan tepatnya tanggal ulang tahunku, biasanya dia diingatkan oleh Mama. Aku pribadi tidak mempermasalahkan hal itu. She's very careful with me and protective as siblings without unsame blood. Di malam hari, teman online-ku Luvi mengucapkan selamat ulang tahun lewat personal chat di WhatsApp, kemudian teman online-ku Jingga mengucapkan selamat ulang tahun di grup Belajar, sebuah grup yang dibuat oleh teman Luvi.

Pascahari ulang tahunku, aku membuat postingan di Instagram Story terkait ulang tahunku. Aku memberi backsound lagu di Instagram Story dengan HALCALI - Strawberry Chips. Aku suka saja lagu tersebut, terlihat ceria jika didengarkan. Aku tahu HALCALI dari temanku, sebut saja dia Black. Kata AI (ChatGPT), lagu ini cocok untuk ulang tahun. Waktu itu, aku tanya kepada AI lagu HALCALI yang cocok untuk ulang tahun. AI bilang salah satu lagu HALCALI yang cocok untuk ulang tahun adalah Strawberry Chips. Makna lagu ストロベリーチップス (Strawberry Chips) merupakan lagu imut tentang hal-hal kecil yang bikin senang, ringan, manis, sehari-hari. Nggak ada konflik, nggak ada drama. Cocok buat ulang tahun karena bahagia itu sederhana.

Di Instagram, temanku Yoru dan Black mengomentari story-ku lewat DM, mengucapkan selamat ulang tahun. Yoru bilang, maaf jika terlambat mengucapkan. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan itu. Yoru adalah teman dekatku, kami satu kelas di kampus. Black adalah teman satu kelasku di SMP. Black dan aku lahir di bulan yang sama, tapi Black lahir lebih dulu. Aku sempat mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Dia tidak fast respon membalas pesan karena sibuk dengan pekerjaan. Black bekerja di dunia IT, aku menjulukinya bekerja 25/8, bukan 24/7 lagi karena saking sibuknya.  

Selain Instagram, aku juga membuat WhatsApp Story. Di WhatsApp, teman dekatku sebut saja Ryn juga mengucapkan selamat ulang tahun dan meminta maaf jika jarang sekali chat aku. Aku mulai mengenal Ryn di SMA, dia teman sebangku Ara. Di SMP, kami satu sekolah, hanya beda kelas. Waktu SMP aku hanya tahu sosok Ryn, namun belum mengenalnya. Waktu masuk Perguruan Tinggi, aku dan dia memilih prodi yang sama dan kami satu kelas di kampus. Jujur, aku sama sekali tidak mempermasalahkan teman dekatku ini yang jarang berkabar, aku pun adalah orang yang cuek. Aku memaklumi kesibukannya, karena kami bukan anak sekolah atau masih kuliah, kami masing-masing sudah bekerja. It's very okay, Ryn. I always hope you stay safe, take care of your health and always be happy.

Mamak dan Bapakku tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Apakah aku sakit hati? Tidak. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Orang tuaku tidak seperti orang tua lain yang ingat akan ulang tahun anaknya. Aku dan orang tua lahir dari generasi yang berbeda. Untuk generasi orang tuaku, perayaan ulang tahun bukanlah hal yang penting. Orang tuaku tidak pernah selama hidupnya merayakan ulang tahun. Bapak dan Mamak tidak tahu kapan tepatnya mereka lahir, hanya tahu tahun dan wetonnya saja. Hal tersebut lumrah pada zaman dulu. Mengingat weton lebih penting daripada mengingat tanggal lahir. Maka dari itu, dilihat secara generasi, kedua orang tuaku tidak pernah peduli dengan yang namanya acara ulang tahun. Sebagai anak, aku bisa memaklumi itu semua. Orang tuaku lebih peduli aku sehat dan tidak sakit, tidak kekurangan sandang, pangan, papan daripada sekadar memberi ucapan selamat ulang tahun.

Ketika aku sudah bekerja seperti saat ini, aku merayakan ulang tahunku sendiri. Jujur, di dalam hati aku masih mengharapkan ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang terdekat. Aku tidak mengharapkan ini kepada kedua orang tuaku, aku hanya berharap kepada orang-orang terdekat yang sudah lebih mengerti dengan yang namanya ulang tahun. Di sisi lain, terkadang aku bisa memaklumi orang-orang terdekatku. Di usia saat ini, ternyata umur seperti numpang lewat saja. Ketika hari ulang tahunku tiba kemarin, aku juga merasa biasa saja, hanya berharap sedikit ada yang ingat, namun kalau tidak ada yang ingat pun aku benar-benar tidak masalah. Aku tahu, kita semua sudah lelah dengan pekerjaan, dengan beban hidup, jadi perkara ulang tahun ulang tahun ini, aku tidak terlalu memikirkan secara berlebihan.

Aku pribadi suka mengucapkan selamat ulang tahun ke orang-orang terdekatku, khususnya bagi mereka yang sudah paham mengenai ulang tahun. Aku suka mencatat tanggal ulang tahun mereka di note kalender yang ada di HP, lalu aku beri alarm supaya aku tidak lupa mengucapkan selamat ulang tahun ketika ulang tahun mereka tiba. Aku suka saja melihat mereka bahagia dengan ucapan kecil yang kuberikan di hari ulang tahun mereka. Terkadang aku juga memberi hadiah kepada mereka jika aku ada rezeki.

Perayaan atau ucapan selamat ulang tahun tidak sepenting itu untukku. Namun, jika ada yang memberi ucapan selamat ulang tahun, memberiku gift, aku sangat menghargai hal itu. Tidak dipungkiri dalam hati kecilku masih mengharapkan hal tersebut, tapi di usia saat ini aku belajar untuk memaklumi keadaan orang lain, jadi aku tidak menuntut.

Meski aku dekat dengan keluarga Ara, bukan berarti hubunganku dengan kedua orang tuaku sendiri buruk. Aku sangat mencintai dan menyayangi kedua orang tuaku. Aku akui, hubunganku dengan kedua orang tua sempat tidak baik. Hubunganku dengan mereka renggang, tidak ada kedekatan. Semenjak beberapa tahun lalu, ketika aku mendapat ujian hidup, itu menjadi titik balikku untuk aku lebih mencintai dan menyayangi kedua orang tuaku, mencintai keluargaku yang tidak sempurna. Bagaimana pun, orang tuaku ada disaat aku berada di titik terendah. Mereka ada disampingku, men-support-ku dengan cara mereka.

Tidak terasa, kuota hidupku di dunia ini sudah berkurang seperempat abad. Who knows where life will take me? (Terinspirasi dari judul album lagunya Reality Club). Doa-doa yang baik saja untuk diriku sendiri. Untukmu yang sedang berulang tahun, selamat ulang tahun. Aku berdoa, umurmu menjadi berkat, apa yang kamu impikan terkabul dan kamu dikelilingi oleh orang-orang yang baik, diliputi kebaikan dan kebahagiaan. Rezekimu dilancarkan oleh Tuhan. Semangat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Suara Hatiku tentang Gaza

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans