Review Animal Farm - George Orwell
Kapan waktu sempet baca novel dar der dor ini yang udah terkenal di seluruh dunia, cuman belum sempet di review aja. Katanya, novel ini bergenre distopia yang mana menurut Google, distopia adalah genre fiksi yang menggambarkan masyarakat imajiner di masa depan dengan kehidupan sengsara dan tertindas. Novel ini juga bergenre satir politik, alegori dan fabel.
Ceritanya mengenai sekelompok hewan di sebuah peternakan di Inggris yang merasa tertindas dan diperbudak oleh manusia. Suatu hari, mereka merencanakan pemberontakan agar bisa merdeka dari manusia dan bisa hidup bebas sebagai hewan.
Singkat cerita, pemberontakan mereka berhasil. Mereka bisa terbebas dari manusia dan hidup merdeka sebagai hewan. Namun, ternyata konflik utama menurutku muncul dari konflik internal di kelompok hewan itu sendiri.
Belajar politik menjadi lebih mudah melalui novel Animal Farm karena cerita yang dibungkus genre fabel. Aku jadi bisa menggambarkan kurang lebih begini, membayangkan sebuah rakyat di suatu negara dijajah oleh negara penjajah, lalu rakyat melakukan perlawanan agar bisa merdeka dari penjajah.
Namun, pascakemerdekaan dan setelah founding father wafat, setelah dibentuk sistem pemerintahan, tujuan mulai belok arahnya dari yang semula bervisi untuk rakyat, lalu secara perlahan menjadi untuk memperkaya pemerintah. Rakyat dibodohi, dimanipulasi dan dimanfaatkan pemerintah.
Ternyata, pemerintah yang semula antikolonialisme pada zaman penjajahan, menjadi pro dengan negara penjajah karena urusan politik pascakemerdekaan. Sebenernya rakyat udah mencium bau-bau nggak bener, tapi karena mereka dimanipulasi dan termakan propaganda pemerintah, rakyat jadi mikir, "sepertinya keadaan saat ini (diperalat pemerintah) jauh lebih baik daripada dijajah seperti dulu." Padahal, keadaannya malah semakin jauh nggak baik-baik saja.
Kurang lebih seperti itu yang digambarkan oleh novel Animal Farm. Dan ini nggak cuman terjadi di satu negara, tapi di seluruh dunia kurang lebih ceritanya sama atau memiliki pola yang sama.
Kalau di Indonesia, pasti relate sama zaman orba. Aku ngait-ngaitin novel ini sama zaman orba, menurutku polanya mirip.
Novel ini recommended buat bacaan yang menurutku nggak terlalu berat. Genre distopia membuat akhir novel ini menjadi tidak ada harapan. Rakyat situasinya tetap begitu-begitu aja, nasibnya tidak berubah jadi lebih baik. Di sisi lain, perut pemerintah semakin gendut dari uang rakyat.

Komentar
Posting Komentar