Lebaran Terasa Meresahkan Bagi Gen Z yang Suka Ditanya Kapan Nikah, Namun Gen Z Lain yang Sudah Memiliki Pasangan Merasa Aman dan Terselamatkan
Lebaran seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi umat Islam karena hari tersebut merupakan perayaan setelah selama sebulan penuh menunaikan ibadah.
Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi generasi Z atau biasa juga disebut sebagai generasi cemas. Teman saya, Mona yang tiga tahun lagi menginjak usia kepala tiga, sudah memperlihatkan muka lelah dan ditekuk bahkan sebelum bulan puasa Ramadan dimulai.
Mona sangat kesal jika ditanya "kapan nikah" oleh tetangga dan kerabat-kerabatnya. Hari Idulfitri seakan-akan momok bagi Mona. Sewaktu silaturahmi ke rumah tetangga dan kerabat, dia merasa seperti dijatuhi hukuman berat.
Tiap tahun khususnya di Hari Idulfitri, Mona kerap mendapatkan pertanyaan kapan nikah dari tetangga dan kerabatnya. Entah hanya basa-basi atau benar-benar bertanya serius, hal tersebut sangat membebani mental Mona, apalagi Mona tipe yang gampang overthinking. Terlalu banyak mikir, bisa membuat asam lambungnya kumat.
"Masalahnya aku harus mencari jodoh ke mana?", ucap Mona dengan wajah pasrah sambil menyisipkan tawa, tanda kalau masih bisa diajak bercanda kala dia curhat dengan teman-teman.
Berbeda dengan Mona, tahun ini Tasya, teman saya yang juga sebaya dengan Mona merasa lega dan aman karena sudah memiliki calon pasangan. Tasya baru saja bertunangan dengan seseorang yang menyukainya.
Awalnya Tasya seperti Mona, bernasib sama setiap hari lebaran suka ditanya kapan nikah oleh tetangga dan kerabat. Tasya yang sebenarnya juga sensitif akan pertanyaan tersebut, lebih memilih diam dan bilang "doakan saja" daripada menampilkan muka kecut ketika ditanya pertanyaan basa-basi tahunan itu.
Kali ini Tasya merasa lega dan aman karena sudah memiliki calon pasangan. Tasya sudah bertunangan dengan seseorang yang menyukainya sejak lama. Sebenarnya Tasya tidak menyukai lelaki tersebut. Karena desakan dari keluarga, mengingat umurnya yang sudah 26 tahun sudah seharusnya menikah, Tasya akhirnya pasrah dan menerima lamaran dari pria yang menyukainya itu.
"Memang nggak ada rasa cinta sama orang itu. Tapi, aku pikir udah saatnya aku membuka diri. Karena aku ingin menikah juga. Usiaku juga sudah seharusnya menikah", ucap Tasya.
Di hari lebaran, Tasya mau pamer dan membungkam mulut warga di desanya dengan memperlihatkan kalau ia sudah memiliki calon pasangan. Dengan begitu, Tasya terbebas dari pertanyaan kapan nikah. Tasya sudah merencanakan akan menikah di tahun ini, bulannya juga sudah ditentukan. Saat ini, Tasya sedang menyiapkan acara pernikahannya seperti resepsi dan hajatan.
Biasanya, Tasya suka menggoda Mona yang tidak kunjung mau membuka diri seperti dirinya. Mona hanya bisa tersenyum pasrah dan terlihat lelah. Tidak mungkin dia membalas godaan Tasya karena Tasya sudah aman, memiliki calon pasangan. Mona biasanya memilih memasang earphone ditelinga, mendengarkan musik atau melihat konten di media sosial agar ia tidak perlu mendengar godaan dari Tasya atau teman lain yang akan membuat dirinya overthinking.
Mona bukan tak mau membuka diri. Mona ingin ada seorang lelaki yang mencintai dirinya dan mereka saling mencintai, sefrekuensi dan sekufu. Baru, Mona mau menikah. Hal tersebut tak berlaku bagi Tasya yang tidak lagi mempercayai yang namanya cinta karena takdir membawanya pada seorang calon suami yang tidak dicintainya. Pasalnya, Tasya pernah suka dengan seseorang, namun ternyata masih kerabat. Dalam budaya Jawa, ada aturan-aturan njlimet perkara jika masih kerabat tak boleh menikah.
Ketika lebaran tiba, saya dan teman-teman termasuk Mona dan Tasya berkumpul untuk halalbihalal. Sambil makan jajanan lebaran, Mona bilang kalau lebaran ini banyak orang-orang yang menanyainya kapan nikah. Perkataan tersebut diucapkannya dengan tertawa dibalut dengan candaan.
Saya sering memperhatikan Mona ketika teman-teman membahas mengenai pernikahan, dia memilih diam dengan raut wajah memperlihatkan bahwa dia tidak nyaman dengan pembahasan tersebut.
Suatu waktu, ketika kumpul bersama, Mona dengan spontan berkata, "kapan kamu mati?" ketika merespon teman-teman yang sedang sharing bagaimana cara menjawab pertanyaan kapan nikah. Mona ingin sekali bertanya balik dengan bertanya "kapan kamu mati?" ketika ditanya kapan nikah. Namun apa daya, itu tidak mungkin terjadi karena Mona masih memperhitungkan etika dan sopan santun.
Mona bukan satu-satunya di dunia ini, ada banyak Mona Mona lain di generasi saat ini memilih menunda menikah atau memilih tidak menikah karena berbagai isu yang beredar, membuat sebagian orang takut menikah. Salah satunya karena melihat tren di media sosial seperti marriage is scary.
Banyak anak muda saat ini memilih menunda menikah dengan berbagai alasan seperti mempersiapkan mental, finansial agar nasib keluarganya nanti tidak seperti generasi-generasi sebelumnya yang memilih asal menikah karena tuntutan sosial, umur yang sudah seharusnya atau tekanan dari tetangga dan kerabat.
Ironisnya, Tasya yang merasa aman karena sudah memiliki calon pasangan, saat ini sedang mumet dengan persiapan pernikahan. Tidak mungkin Tasya menikah sederhana di KUA karena itu akan menjadi omongan tetangga.
Pernikahannya harus memenuhi standar masyarakat, harus mengadakan hajatan mewah pada umumnya. Lagi-lagi "yang umum", padahal "yang umum" dalam kacamata masyarakat belum tentu baik bagi finansial pribadi.
Sebagai anak bungsu dari banyak saudara, Tasya seperti menyiapkan pernikahannya sendiri. Intinya lebih repot, padahal dia memiliki banyak saudara yang seharusnya bisa dimintai tolong. Kakak-kakaknya yang sudah menikah tidak bisa terlalu membantu karena sudah memiliki suami dan istri, berkeluarga dan sibuk mengurus anak-anak di rumah.
Saya hanya membatin, yang namanya menikah sedemikian pusing kalau mengikuti standar masyarakat, tapi kenapa masih banyak orang yang menyuruh kapan nikah, nikah harus yang mewah dan sebagainya. Aneh sekali kalau dipikir-pikir. Apa mereka ingin menjebloskan para single ke dalam lubang yang sama?
Kalau dipikir-pikir, terlihat seperti ajang balas dendam karena dulu mereka pernah merasakan hal serupa, ditanya kapan nikah dan mempersiapkan pernikahan yang sedemikian repotnya.
Sebenarnya hidup bisa dibuat simple jika kita bisa menerapkan sebuah seni untuk bersikap bodo amat seperti judul buku Mark Manson. Sayangnya, masih banyak yang kalah dengan tekanan sosial, alih-alih belajar untuk bersikap bodo amat.
────୨ৎ────
Bagi yang familiar dengan gaya tulisan ini. Iya, tulisan ini memang niatnya penulis kirim ke Mojok.co. Tapi, karena hampir sebulan belum ada kabar, akhirnya penulis publish saja di blog pribadi.
Konon katanya, email redaksi Mojok sedang kepanasan karena saking banyaknya penulis mau misuh-misuh sambat di Mojok. Sementara para tim kewalahan mengatasi naskah yang bejibun itu karena kalah jumlah. Iya, masa naskah yang ribuan itu dihadapi oleh redaktur yang jumlahnya sekitar tiga orang. Apa nggak bengek tuh.
Kalau kata caption Instagram @mojokinstitute_ di Reel terbarunya pada tanggal 26 April 2026, "Yang penting itu bukan soal tembus Terminal Mojok atau tidak, melainkan engkau tetap berpikir dan berani menuliskannya".
Inggih, leres, Pak. Tapi kalau kata temen, penulis butuh duwit juga, wkwkwk (canda Mojok). Lagipula, ini pertama kalinya penulis kirim tulisan di Mojok. Lain kali mau kirim tulisan lagi, siapa tahu bisa hoki. Aku suka Mojok.co :D.
Komentar
Posting Komentar