Review Laut Bercerita - Leila S. Chudori

 


Laut Bercerita - Leila S. Chudori

🫧𓇼𓏲*ੈ✩‧₊˚ 🌊


Jujur, awal membaca novel ini, aku merasa biasa aja. Aku merasa, masih bagus novel Pulang daripada Laut Bercerita. Aku mulai semangat membaca ketika sudah di pertengahan dan konflik mulai menegang. Ketika Laut, dkk, harus merunduk di bawah tanah, kabur dari kejaran Intel sewaktu situasi politik di masa Orde Baru semakin memanas.

Memang, aku tidak bisa jika tidak membandingkan novel ini dengan Novel Bu Leila - Pulang. Bagaimana, ya, aku lebih dulu baca novel Pulang, jadi aku merasa sedari awal baca novel Pulang, tuh, bagus banget.

Berbeda dengan karakter Alam di Pulang, karakter Laut di novel Laut Bercerita adalah seorang yang pendiam, penyayang, pintar, kritis, dan kutu buku.

Laut Bercerita terinspirasi dari kisah penghilangan paksa 13 aktivis di zaman menjelang runtuhnya Orde Baru. Sebagian aktivis dibebaskan, sebagian lagi menghilang sampai saat ini. Meski penculik aktivis kala itu diadili, dalang dibalik penculikan aktivis pada waktu itu tidak benar-benar diadili. Sampai saat ini, kasus pelanggaran HAM di Indonesia masih menjadi kasus penting yang belum diselesaikan oleh negara.

Seperti yang terjadi dalam sejarah sendiri, ending novel ini sad karena aktivis yang menghilang tidak kunjung ditemukan, membuat trauma dari keluarga semakin dalam.

Memasuki reformasi, Indonesia belum benar-benar berubah. Masih ada upaya pembungkaman aktivis, oposisi dan penegak demokrasi yang berusaha bersuara di negeri ini. Kisah sama yang masih berulang. Pelaku mungkin ditangkap meski membutuhkan waktu yang panjang. Tapi, dalang dibalik pembungkaman tidak tertangkap. Pelaku biasanya hanya suruhan dari 'seseorang' yang tidak menginginkan demokrasi di negeri ini.

Untukku pribadi, novel Laut Bercerita sangat bagus dibaca, khususnya bagi masyarakat yang masih awam sejarah. Sejarah yang dibalut dengan novel akan lebih seru untuk dibaca, tidak akan terasa membosankan.


Personal rating untuk Laut Bercerita: 4,5 / 5


────୨ৎ────

Out of topic.

Baru-baru ini, Andrie Yunus Selaku Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) disiram air keras oleh Orang Tak Dikenal (OTK) pada Kamis, 12 Maret 2026 di malam hari. Andrie Yunus langsung dilarikan ke rumah sakit, beliau mengalami luka bakar sebanyak 24% pada tubuhnya.

Peristiwa tersebut membuktikan bahwa sampai saat ini, siapa pun yang ingin menegakkan demokrasi di negeri ini, belum pernah benar-benar tenang dalam hidupnya karena harus berurusan oleh oknum-oknum yang ingin menguasai negeri ini. Meski Orba telah runtuh 28 tahun lalu, namun jejak-jejaknya masih dirasakan di era reformasi yang terasa belum sepenuhnya reformasi. 

Turut prihatin atas apa yang terjadi pada Andrie Yunus. Usut tuntas pelaku. Berikan keadilan pada penegak HAM dan demokrasi di negeri ini.

Menolak lupa. Pendiri KontraS, Munir Said Thalib, pada tahun 2004 meninggal karena diracun di dalam pesawat ketika sedang terbang menuju Belanda. Faktornya, kala itu Munir terlalu keras bersuara mengenai Hak Asasi Manusia. Terdapat oknum-oknum yang tidak suka beliau bersuara. Seperti lirik lagu Efek Rumah Kaca - Di Udara, "ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa diracun di udara, ku bisa terbunuh di trotoar jalan"

"Tapi aku tak pernah mati, tak akan berhenti".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Suara Hatiku tentang Gaza

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans