Suara Hatiku tentang Gaza

Source


Beberapa bulan ini, aku dibuat stres dengan berita di media sosial terkait kondisi Gaza. Aku yang biasanya cuek dan malu untuk bersuara tentang Palestina, kali ini ikut bersuara dengan kemampuanku yang sangat tidak seberapa.

Sejak berita Gaza Freedom Flotilla bertebaran di media sosial, aku tertarik dengan sosok gadis yang paling jadi sorotan. Greta Thunberg. Seorang aktivis iklim dan kemanusiaan. 

Dari aku yang sangat awam dengan sosok Greta, sejak tergabungnya ia dalam Gaza Freedom Flotilla bersama sebelas aktivis lainnya, menaiki kapal Madleen dan berangkat menuju Gaza, dari situlah aku terinspirasi dari sosoknya dan ingin seberani dirinya.

Aku sebenarnya tidak tahu, apakah perasaan takut dan malu yang ada dalam diriku dipengaruhi oleh mental illness-ku atau ini bawaan dari sifatku. Bisa jadi dua-duanya. Yang jelas, aku adalah seorang pemalu dan takut untuk menyuarakan pendapatku.

Aku takut orang-orang akan menghakimiku dan tidak suka padaku jika aku menyatakan pendapatku. Padahal, pascaperistiwa mental breakdown yang aku alami, aku sudah menyatakan diri untuk tidak takut dibenci oleh orang lain, namun aku tahu, tidak mudah untuk merubah semua ini.

Lalu aku mengenal sosok Greta. Aku belajar darinya untuk tidak takut bersuara dan menjadi berbeda. Aku mulai mencoba untuk keluar dari zona nyaman dan tidak sekedar memilih bersikap aman.

Aku belajar kembali untuk berani tidak disukai tapi kalau aku pribadi pasti tetep ada rasa sedihnya, sih, tapi juga harus belajar tegar. Belajar dan belajar lagi tidak hanya sekedar bersuara.

Aku memang orang yang gampang terbawa arus. Aku pun mulai berani lebih terbuka membela Palestina akhir-akhir ini karena dorongan aktivis yang terus menyuarakan Palestina di media sosial.

Dari Gaza Freedom Flotilla dan kini Global March to Gaza, media sosialku khususnya Instagram dipenuhi dengan berita-berita mengenai Palestina. Dan, kali ini aku ingin menjadi salah satu orang yang ikut bersuara.

Mungkin belum berdampak. Aku tahu power-ku tidak sebesar Greta. Tapi dari sini, aku ingin menunjukkan jika aku juga membela Palestina dan tidak hanya sekedar diam saja. Aku ingin belajar menjadi berani. 

Aku tahu konsekuensinya, pro kontra dan kritik pasti ada. Orang yang tidak suka pun pasti ada. Tapi kini aku ingin belajar menghadapi konflik, tidak seperti dulu, aku adalah si pengindar konflik. Pelan-pelan. Aku tahu ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Di media sosial, aku bebas jadi apa saja, jadi diriku sendiri atau menjadi diri yang aku bentuk. Tapi tidak, di mana pun aku ingin jadi diri sendiri. Meski di situasi tertentu terkadang harus pakai topeng sosial, tetapi aku ingin terus belajar menjadi diriku sendiri.

Aku adalah si awam yang masih harus banyak belajar, banyak baca buku supaya pengetahuanku bertambah, jadi tidak gampang tergiring opini dan bisa memberikan argumentasi.

Aku yang pendiam ini memulai mencoba mengeluarkan pendapat di media sosial. Menurutku, aku lebih bisa berani dan bebas di media sosial. Aku masih belum seberani ini di dunia nyata. Aku masih pendiam. Namun, media sosialku mewakili pemikiran-pemikiranku.

Palestina, maafkan aku, ya. Dulu aku cuek banget dan tidak mau bersuara karena malu dan takut. Kini aku belajar untuk melawan kecemasanku. Aku ingin bersuara tentangmu agar dunia tahu. Aku memang belum memiliki dampak, tapi setidaknya Tuhan tahu niatku. Semoga saja, panggilan hati ini tidak luntur. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans