Review Film Tinggal Meninggal (2025)
Source: Pinterest
Film Tinggal Meninggal (2025) atau disingkat dengan sebutan TingNing baru saja tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 14 Agustus 2025.
Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Gema yang suka berbicara dengan dirinya sendiri. Suatu hari, papa Gema meninggal dunia dan dia mendapatkan perhatian dari teman sekantornya. Untuk itu, Gema berpikir, apa harus ada yang meninggal lagi supaya dia mendapatkan perhatian?
Film ini merupakan film yang kutunggu. Sewaktu film ini rilis, aku excited untuk menontonnya. Aku merasa relate dengan karakter Gema yang suka berbicara sendiri. Setelah menonton filmnya, ternyata karakter Gema lebih complicated dari yang kubayangkan.
Sewaktu menonton, tentu penonton dibuat ketawa, sesuai dengan genre dari film ini yaitu dark comedy. Namun bedanya, comedy-nya berasal dari kegetiran hidup. Penonton seakan dibuat ketawa tapi juga mikir, "ini sebenernya boleh diketawain nggak, sih?"
Awalnya, aku simpati dengan karakter Gema sejak lihat trailer TingNing dan awal film dimulai. Lama-lama setelah masuk ke konflik, ada perasaan kesal juga sama karakter Gema. Aku menempatkan diriku dalam POV teman-temannya. Kalau aku jadi teman-teman Gema, pasti merasa marah dan kesal juga.
Namun, semua seolah sudah terbangun. Mengapa karakter Gema bersifat demikian karena berdasarkan masa lalunya. Jadi, penonton pun diajak berempati dengan orang-orang seperti Gema. Masih banyak di luaran sana orang harus bertopeng supaya diterima dalam circle pertemanan atau di lingkungan mana pun.
Sifat itu relate juga di aku. Aku masih belum bisa otentik seratus persen ke semua orang meski aku sudah berusaha menjadi otentik. Ada kalanya aku mengikuti apa yang orang lain suka, padahal aku sendiri nggak suka hal tersebut supaya diterima atau supaya aman. Kalau aku nggak mengikuti mereka, aku berpikir, aku akan dikucilkan, atau nggak bisa survive di lingkungan tersebut.
Sifat demikian relate ke banyak orang. Kita akan tampil apa adanya kepada orang yang benar-benar menerima baik dan buruknya kita. Karena dengan mereka, kita nggak takut di judge.
Oh, iya, balik lagi ke TingNing. Film ini benar-benar membuat perasaanku campur aduk. Ada part ketawa, part kesel, part mau nangis, itu pun nggak cuman sama Gema aja keselnya, tapi sama kedua orang tuanya, sama temen-temennya. Bisa dibilang, film ini kalau dibuat genre drama pun, bisa, dan akan membuat penonton lebih mewek lagi.
Dengan dibuatnya film ini bergenre dark comedy, penonton masih diajak ketawa ketiwi sama Kristo Immanuel selaku sutradara dari film ini.
Film ini sangat mengajarkanku untuk berempati sama orang-orang seperti Gema, bahkan ada kalanya kita sendiri relate dengan karakter Gema, karakter dari teman-teman Gema sendiri, atau karakter tokoh lain yang ada di film ini. Meski nggak semua, tapi ada beberapa sifat yang mestinya relate.
Film ini juga mengajarkan bahwa, kalau seseorang beneran tulus peduli dengan kita, kita akan diterima apa adanya. Karena mereka tulus menerima segala baik buruknya kita.
Banyak Gema Gema lain diluar sana melakukan kesalahan hanya demi mencari perhatian. Film ini mengajarkanku kalau dibalik kesalahan, terdapat faktor yang melatarbelakangi. Ada luka batin masa lalu yang nggak terlihat. Kalau kita bisa lihat itu semua, kita akan ngerti dan jadi lebih bijak dalam menanggapi suatu permasalahan.
Gema, aku sebagai penonton TingNing, ada perasaan kasihan, kesal, sedih, tapi dibalik itu semua, aku salah satu orang yang sayang sama kamu juga, Gem. Kamu dan karakter-karakter di film ini seperti Kerin, Adriana, Ilham, Naya, Danu dan Pak Cokro mewakili sifat-sifat kami sebagai penonton.
By the way, kekurangan dari film ini adalah ketika dipertengahan konflik, aku agak merasakan sedikit kebosanan sama Gema yang terus-menerus melakukan hal yang sama demi mendapatkan perhatian.
Ending-nya plot twist. Plot twist di film ini sesuai yang kuharapkan waktu kesel sama Gema di pertengahan konflik. Eh, kewujud juga, dong. Psikopat nggak, ya, gue, huaaaaa, namanya juga kesel. Tapi nggak kaget juga, sih, kalau plot twist tersebut bakalan muncul, soalnya udah kepikiran waktu kesel.
Waktu kewujud, beneran nangis perasaanku sebagai penonton. Tetep ada perasaan nggak nyangka. Emang getir banget comedy-nya.
Personal rating-ku untuk film ini adalah 8,5. Aku lihat rating versi Cine Crib adalah 7,5. It's okay, beda selera, wkwkwk. Aku kasih rating tersebut karena sewaktu tayang teaser dari film ini, aku udah langsung suka dan niat buat nonton kalau udah rilis. Alhamdulillah bisa nonton juga.
Kata Cine Crib, film ini comedy-nya fresh. TingNing merupakan film pertama Kristo Immanuel yang baru saja debut jadi sutradara. Menurut Cine Crib, film ini ada sentuhan khas Kristo banget. Kristo pun berhasil buat film bagus untuk first debutnya sebagai sutradara. Selamat bang Kristo, Selamat istri bang Kristo, Jessica Tjiu.
Judul film: Tinggal Meninggal
Genre: Dark Comedy
Sutradara: Kristo Immanuel
Penulis: Kristo Immanuel dan Jessica Tjiu
Produser: Ernest Prakasa
Rumah Produksi: Imajinari
Personal rating: 8,5 / 10 ⭐
Tiga Ost Film Tinggal Meninggal yang kusukai ⤵

Komentar
Posting Komentar