Review Buku Bagaimana Media Sosial Menghancurkanmu

 


Judul buku: Bagaimana Media Sosial Menghancurkanmu

Penulis: Eno Bening, dkk.


Buku ini memiliki lima bab yang membahas mengenai media sosial menggunakan pemikiran Jean Baudrillard. Sebagai penikmat buku tingkat ringan - sedang atau tidak terlalu berat, buku ini berat bagiku karena aku awam dengan filsafat.

Namun, bab ketiga mulai memberiku pencerahan setelah sebelumnya aku tidak mengerti sama sekali dengan bab 1 dan bab 2 yang membahas media sosial menggunakan teori-teori filsafat.

Buku ini menjelaskan mengenai awal munculnya media sosial hingga faktor media sosial bisa se-masif sekarang. Dulu, jika ingin login media sosial, seseorang harus ke warnet terlebih dahulu, namun sekarang kita dengan mudah mengaksesnya kapan pun tanpa perlu ke warnet.

Media sosial saat ini bukan hanya sebatas media yang digunakan untuk interaksi sosial di dunia maya, namun melebihi semua itu. Manusia saat ini diatur untuk tidak bisa lepas dari media sosial. Realitas di dunia maya seakan kabur dengan realitas dunia nyata.

Dampak buruknya, banyak hoaks bertebaran karena banyaknya informasi yang masuk setiap harinya. Kita sebagai pengguna kesulitan memfilter informasi-informasi tersebut atau barangkali meluangkan waktu untuk duduk sejenak melakukan crosscheck kebenaran fakta dari informasi yang diberitakan di media sosial.

Salah satu contoh kasus hoaks yang diangkat dalam buku ini adalah ucapan Presiden Amerika Serikat George W. Bush terkait adanya senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak dibawah rezim Saddam Hussein.

Hal ironis, relate sekaligus menggelitik, ketika penulis membahas mengenai fenomena media sosial Instagram. Misalnya, ketika seseorang menggunakan fitur close friends, namun daftar akun-akun yang ada dalam fitur close friends tersebut sebenarnya di dunia nyata—hubungan mereka tidak dekat atau bahkan hanya kenal atau tahu orangnya saja.

Buku ini membahas makna fitur close friends sebenarnya lebih kepada seseorang yang akan memasukkan akun yang dirasa aman dan tidak akan menjudge unggahannya di Instagram Story. Baik akun tersebut orang terdekat di dunia nyata atau tidak dekat, asal akun tersebut dirasa aman, akun tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar close friends.

Hal lain yang disinggung adalah ketika seseorang memutuskan tidak aktif di media sosial dan bertahun-tahun kemudian tiba-tiba dia mengunggah foto dirinya di media sosial, teman-teman mutualnya akan terkejut bukan main. Ibaratnya, orang tersebut seperti telah bangkit kembali dari kematian. Aku tahu ini terkesan lebay, namun orang akan dianggap aneh atau sangat luar biasa memiliki batasan jika tidak aktif di media sosial pada saat ini.

Closure: Buku ini mengajarkan pembaca untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Kata penulisnya, cukup sadari bahwa kita harus beradaptasi dengan fenomena media sosial saat ini. Bangun kesadaran supaya jika kita mulai FOMO, kita tidak terus-menerus terjebak FOMO. 

Membangun critical thinking sangat penting untuk saat ini. Yang aku tangkap, penulis menyampaikan pesan bahwa percuma, kita tidak bisa menghancurkan sistem, jadi, ya, udah ikut nyebur aja, tapi hati-hati, jangan sampai terseret arus, jika hal itu terjadi, disitulah media sosial akan menghancurkanmu.

Itu tadi reviewku mengenai buku Bang Eno, dkk. Jujur banyak sekali istilah yang aku tidak mudeng di buku ini, seperti tanda, penanda, petanda, simulasi, simulakra, hiperrealitas, katastrofe dan lain-lain. Buku ini cocok banget bagi kamu yang suka sama filsafat. Bagi yang belum tertarik dengan filsafat sepertiku, bisa baca juga untuk membangun kesadaran dalam bijak bermedia sosial. Sesekali kita harus keluar dari zona nyaman kita, ya, nggak, sih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Suara Hatiku tentang Gaza

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans