Cerita tentang Sakit dan Air

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, aku masih dipertemukan dengan bulan Ramadan di tahun ini. Meski aku merasa, bulan Ramadan di era dewasa tidak se-spesial yang kurasakan sewaktu kecil, namun aku senang bisa berjumpa dengan Ramadan. Setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Aku tidak sedang menceritakan bulan Ramadan. Aku sedang menceritakan tentang teman kerjaku yang sedang sakit. Awal bulan Ramadan, teman kerjaku izin tidak masuk kerja karena sakit tifus.

Aku dan teman kerjaku yang lain merasa biasa saja karena sudah menjadi hal biasa jika ada salah satu teman kerja izin tidak masuk kerja karena sakit atau ada kepentingan. Kami berpikir, mungkin sakitnya tidak akan berlangsung lama.

Namun, teman kerjaku yang sedang sakit tersebut tidak masuk sekitar tiga hari lebih. Lalu kami mengetahui dari story WhatsApp-nya ternyata dia opname di sebuah klinik atau puskesmas (kalau aku tidak salah ingat). Berarti, ini bukan sakit yang biasa saja.

Akhirnya kami berniat untuk menjenguknya. Ternyata dia dipindah ke rumah sakit umum karena terdapat diagnosis baru, terkena DB (demam berdarah).

Hari itu hari Jumat, hari terakhir kami bekerja karena biasanya hari Sabtu dan Minggu kami libur kerja. Kami menjenguk teman kerjaku yang sedang sakit di sore hari sepulang kerja. 

Pulang kerja, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sangat tidak expect akan turun tepat sepulang kerja meski mendung tebal sudah menjadi tanda-tanda sedari sore.

Kami semua memakai mantel meski jarak rumah sakit dan tempat kerja sangat dekat. Terdapat temanku yang tidak membawa mantel, akhirnya dia pulang duluan, tidak ikut menjenguk. Jika dipaksakan pasti akan basah kuyup. 

Temanku tersebut kondisinya juga sedang tidak fit. Dia terkena flu. Sebelumnya dia sudah prepare membawa masker yang akan digunakannya nanti ketika menjenguk temanku yang sedang sakit. Dia berjaga-jaga supaya dirinya tidak tertular virus atau penyakit dari RS (rumah sakit).

Sesampainya di rumah sakit, salah satu dari temanku menelepon suami temanku yang sedang sakit, menanyakan temanku tersebut dirawat di ruangan sebelah mana.

"Tunggu aja di depan ruang gawat darurat, mbak." Begitu kira-kira jawaban dari suami temanku yang sedang sakit.

Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju ruang tersebut. Sesampainya di depan ruang gawat darurat, suami temanku yang sedang sakit tidak ada di sana. Kami semua bingung ruangan yang digunakan untuk ranap (rawat inap) temanku yang sedang sakit itu di mana, katanya tadi disuruh menunggu di depan ruang gawat darurat.

Apa mungkin temanku yang sedang sakit itu dirawat di ruang gawat darurat? Begitu kiranya pertanyaan dari teman-temanku. Tidak mungkin. Kami mencoba untuk menepisnya.

Akhirnya, kami pergi dari depan ruang gawat darurat, mencoba mencari sendiri dimana ruangan temanku di rawat, namun hasilnya malah nyasar.

Temanku yang tadi menelepon suami temanku yang sedang sakit, beliau menelepon lagi suami temanku untuk menanyakan sebenarnya ruangan ranapnya ada di mana. Lalu, suami temanku menyuruh kami semua untuk kembali lagi ke depan ruang gawat darurat.

Ternyata benar, di sanalah temanku yang sedang sakit berada. Dia dirawat di ruang gawat darurat. Kami tidak bisa masuk semua untuk menjenguk temanku yang sedang sakit. Orang yang ingin menjenguk harus giliran dan yang masuk menjenguk maksimal dua orang.

Kami semua tidak menyangka kalau temanku ditempatkan di ruang gawat darurat. Berarti kondisinya bisa dikatakan parah. 

Singkat cerita, aku masuk paling terakhir bersama temanku yang tadi sempat menelepon suami temanku yang sedang sakit. Sebenarnya beliau sudah masuk duluan, hanya saja karena tinggal aku sendiri yang tidak punya gandengan, jadi aku minta beliau buat menemaniku.

Aku memasuki sebuah ruangan yang terbilang luas, namun seingatku, tiap ruangan di sekat menggunakan tirai. Hanya ada temanku dan keluarga dia yang ada di ruangan tersebut. Aku menyalami ibu mertuanya dan suaminya. Ibu mertuanya kemudian keluar, mungkin tidak boleh banyak orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

Alat bantu pernapasan mirip seperti slang dan terdapat sebuah cup—seperti yang aku lihat di film-film—terpasang di hidung temanku. Terdapat alat seperti penjepit jemuran baju menjepit jarinya dan diatasnya terdapat layar seperti komputer yang menampilkan garis zig-zag untuk melihat detak jantung pasien.

Aku bukan orang medis, jadi pengetahuanku mengenai dunia medis sebatas melihatnya dari televisi, film ataupun drama. Jadi, aku tidak tahu nama-nama alat yang aku sebutkan tadi.

Perasaan miris dan prihatin, itulah yang kurasakan kala melihat keadaan temanku di rumah sakit. Membuatku refleksi, betapa kesehatan sangat mahal dan manusia akan membayar berapa pun biayanya untuk memperoleh kondisi sehat.

Mengingatkanku bahwa, aku masih suka menyia-nyiakan kesehatanku, mengabaikan kondisiku. Namun, sewaktu aku mendapatkan suatu cobaan, baru hal tersebut seperti sebuah peringatan dan menyadarkan segalanya.

Pernah air PDAM di daerah rumahku mati dan rumahku adalah salah satu yang terkena dampaknya. Aku dan bapak harus berhemat air karena air dirumah tinggal sedikit.

Padahal jika air mengalir, aku menggunakan air seenak jidatku karena merasa "ah, masih banyak dan masih tersedia, kan". 

Namun, ketika kenikmatan "air" itu dicabut secara tiba-tiba, aku menjadi sadar dari keadaan diriku yang belum sadar sebelumya. Dari situ, aku menjadi belajar bersyukur. Ternyata aku sudah diberi segalanya oleh Allah. Masih banyak di luar sana yang diberi ujian tidak memperoleh akses air bersih dan diberi ujian kesehatan.

Ketika aku dalam keadaan tidak sadar, aku menyepelekan kesehatanku, menyepelekan penggunaan air karena menurutku itu hal yang sepele. Namun ternyata, ketika hal tersebut diambil dariku, aku menjadi sadar bahwa hal tersebut bukan hal sepele, hal tersebut adalah sesuatu yang berharga.

Aku menjadi belajar untuk tidak terus menerus memandang ke atas. Aku bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki saat ini. Ternyata memandang ke bawah itu sangat penting. Jika terlalu banyak memandang ke atas, aku menjadi tidak bersyukur.

By the way, punya pikiran seperti saat ini—aku arus mengalami sebuah pengalaman salah satunya pengalaman yang aku ceritakan di atas. Ternyata manusia memang jarang sadar dan harus ditampar dulu supaya sadar.

Beberapa hari yang lalu, teman kerjaku yang sedang sakit mengirim pesan ke grup WhatsApp bahwa dia sudah keluar dari rumah sakit dan sedang rawat jalan di rumah. Dia minta doanya kepada teman-teman kerja semoga cepat diberi kesehatan. Alhamdulillah. Semoga cepat sembuh, teman.

────୨ৎ────

Marhaban ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa 1446 H.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Suara Hatiku tentang Gaza

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans