Belajar dari Drama Twinkling Watermelon (2023)
Awal melihat episode di drama ini, aku pikir cukup bagus. Aku tidak me-review drama ini, namun aku bercerita mengenai apa yang aku dapatkan setelah menonton drama ini.
Cerita awal pada episode drama ini cukup membingungkan, namun pelan-pelan penonton akan mengerti karena akan dijelaskan. Btw, aku geli dengan unsur bromance yang ada di drama ini.
Aku tidak menyukai L***. Menurut pandangan subjektifku, adanya unsur bromance di dalam drama ini—aku jadi berpikir drama ini disusupi unsur L*** namun sangat halus. Semoga pendapat subjektifku salah.
Drama ini bercerita mengenai seorang anak umur 18 tahun bernama Ha Eun-gyeol yang melakukan time travel ke tahun 1995, tahun di mana orang tua Eun-gyeol pada masa itu masih SMA seperti dirinya.
Dalam perjalanan time travel yang dilakukan Ha Eun-gyeol, dia menjadi tahu bahwa pada masa muda, kedua orang tuanya mengalami masa sulit.
Unsur bromance yang aku maksud di sini adalah antara Ha Eun-gyeol dengan ayahnya di tahun 1995 yang masih berumur 18 tahun sama seperti dirinya.
Aku geli sendiri waktu menontonnya. Yang udah nonton pasti tahu sendiri. Unsur bromance dalam drama ini sebenarnya menjadi bumbu komedi. Terlepas dari pandangan subjektifku mengenai unsur bromance, aku tetap menyukai drama ini.
Drama ini bergenre time travel, romance, family dan friendship. Aku suka dengan cerita keluarga dan persahabatan dalam drama ini. Drama ini mengajarkan, meski terdapat pertengkaran antara anak dan orang tua, itu bukan berarti bentuk kebencian.
Konflik akan selalu ada antara anak dan orang tua. Namun, hal tersebut bukan berarti bentuk kebencian, aku lebih mengartikan konflik di drama ini sebagai salah satu bentuk komunikasi yang buruk. Dari konflik akan ditemukan sebuah pelajaran yang dapat diambil.
Dalam drama ini tidak hanya menunjukkan orang tua yang baik. Terdapat orang tua yang berbuat buruk kepada anaknya, sehingga anak tersebut menjadi berpikir kenapa aku harus dilahirkan.
Namun, begitu anak tersebut bisa melihat dari berbagai sisi mengapa orang tua mereka buruk, anak tersebut dapat mengambil pelajaran dari keluarganya yang broken home.
Aku setuju dengan ungkapan, tidak ada orang tua yang sempurna, tidak ada anak atau keluarga yang sempurna. Kita hanya anak atau orang tua yang belajar menjadi yang terbaik di dalam keluarga.
Nikmati prosesnya bukan hasilnya. Dalam belajar, kita akan melakukan kesalahan.
Aku suka judul drama ini. Lucu saja kalau di dengar. Aku suka dengan semangka (수박) 🍉 karena identik dengan Palestina. Setelah menonton drama ini aku menjadi tahu arti judul drama ini. Maknanya sangat dalam.
Judul drama ini terinspirasi dari karya pelukis terkenal Frida Kahlo. Lukisan terakhir beliau berjudul Viva La Vida (1954) adalah inspirasi adanya drama ini (merujuk dari nonton YouTube). Dalam drama ini akan ada penjelasan mengenai Viva La Vida dan artinya.
Aku baru tahu, arti Viva La Vida adalah sebuah frasa dari bahasa Spanyol yang berarti panjang umur. Arti tersebut mempunyai makna yang sangat dalam dan positif.
Dulu aku hanya tahu Viva La Vida sebagai judul lagu band Coldplay. Sekarang aku jadi mengerti mengapa banyak yang terinspirasi dari frasa Viva La Vida. Arti frasa yang mendalam, membuat seseorang yang mengalami titik terendah menjadi semangat lagi untuk menjalani hidupnya.
Aku suka lagu-lagu dalam drama ini, khususnya lagu-lagu di tahun 90-an. Sepertinya memang lagu-lagu di tahun 90-an, karena drama ini berkisah pada tahun 1995.
Aku sudah mencari judul lagunya. Ini lagu-lagu yang aku suka.
Lee Seung-hwan - As much as the love scattered in the world
Hyun Mee - The Boy in the Yellow Shirt
Dari beberapa judul lagu di atas, aku paling suka lagu So soon dan Jealousy. As much as the love scattered in the world juga bagus.
Terdapat lagu yang aku suka di episode 1 ketika Ha Eun-gyeol kecil menangis di depan toko Viva Music. Lagu tersebut berjudul Tears in Heaven yang dinyanyikan oleh Eric Clapton. Lagunya terdengar seperti lagu era tahun 90-an. Waktu aku cari di Google, lagu ini rilis di tahun 1992.
Lagu yang mempunyai makna mendalam. Menurut thisisdig.com, "Tears in Heaven" diciptakan dan dinyanyikan oleh Eric Clapton untuk mengenang kematian putranya, Conor, yang meninggal pada 20 Maret 1991. Conor meninggal dunia setelah tergelincir dari jendela lantai 53 sebuah gedung apartemen di New York City.
Beberapa quotes yang aku catat dalam drama ini.
Jika kamu mendorong dinding, itu menjadi jembatan. Jika kamu jatuh di suatu tempat, akan ada harta tersembunyi.
-Go Yang-hee-
Tidak ada timbangan yang bisa mengukur siapa yang lebih terluka dan tidak ada yang bisa menilainya. Tidak ada yang berhak menilai penderitaan orang lain dan kita tidak berkewajiban agar itu diakui oleh orang lain.
-Ha Eun-gyeol-
Tidak ada yang bisa menjalani hidupmu untukmu.
-On Eun-yu-
Lukisan Viva La Vida (1954) oleh Frida Kahlo


Komentar
Posting Komentar