Pelajaran Hidup di Tahun 2024




Nggak terasa sudah akhir tahun 2024. Beberapa minggu lagi sudah tahun 2025. Bagiku, tahun ini tuh rasanya cepet banget. Aku sering melalui hari-hari dengan mode autopilot. Eh, tiba-tiba udah nyampek, eh, tiba-tiba udah weekend. Namun dengan keseharianku yang autopilot itu, bukan berarti aku tidak menikmati momen-momen yang kulalui di tahun ini.

Banyak hal yang kusyukuri, banyak hal yang kutata kembali pelan-pelan. Dari perjalanan hidup di tahun ini, terdapat hal-hal yang menjadi pelajaran hidup untukku.

Berikut beberapa hal yang menjadi pelajaran hidup bagiku selama tahun 2024.

1. Yang paling mencintaiku

Saat ini aku lebih aware akan nikmat-nikmat yang diberi oleh Allah. Banyak berkat yang diberi-Nya kepadaku. Aku pun jadi lebih bisa berpikir positif dan menyadari kalau selama ini, hidupku banyak dipenuhi berkat oleh-Nya.

Secinta itu Dia pada hamba-Nya. Aku jadi bisa relate dengan ayat Al Quran yang bilang bahwa Allah lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat nadi hamba itu sendiri. Aku nggak tahu, ya, ayat ini dari Quran surat ke berapa, aku nggak hapal. Yang jelas aku ingat, perkataan tersebut berasal dari ayat Al Quran.

2. Yang paling mencintaiku selanjutnya

Setelah Allah, yang paling mencintaiku adalah Rasulullah. Tentu ini bukan dari perkataanku, tapi based on hadis yang bilang sewaktu Rasul wafat, beliau menyebut umatnya sebanyak tiga kali. Beliau khawatir akan nasib umatnya sepeninggal beliau.

Setelah Rasul, orang yang paling mencintaiku di dunia ini adalah orang tuaku sendiri. Terima kasih banyak mamak dan bapak, kasihmu sepanjang masa sementara anakmu ini masih sepanjang genter

Aku minta maaf kalau aku belum bisa membahagiakan kalian. Dalam hatiku yang terdalam, aku pengen bilang kalau aku sayang banget sama kalian. Maafkan kesalahan-kesalahanku, ya, mak, pak.

Mamak dan bapak, terima kasih telah melahirkanku ke dunia ini. Terima kasih sudah jadi orang tuaku. Kalian memang bukan orang tua sempurna, aku pun bukan anak yang sempurna. Namun kalian orang tua terbaik bagiku. Doa terbaik untuk mamak dan bapakku, sehat-sehat selalu.

3. Orang-orang baik

Alhamdulillah, aku termasuk salah satu orang yang beruntung. Selama hidupku, aku selalu punya teman dan orang-orang yang peduli denganku.

Terima kasih bagi orang-orang yang sudah peduli denganku, mau menerima segala kekuranganku, kelebihanku dan menganggapku keluarga. Terima kasih, sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesahku meski nggak harus fast respons dan selalu ada 24/7, nggak apa-apa banget, kita semua punya kesibukan masing-masing.

Maafkan kesalahan-kesalahanku, maafkan aku belum bisa jadi teman, sahabat atau saudara yang baik. Aku masih terus belajar akan hal itu. Doa baikku untuk kalian orang-orang baik. Sehat-sehat selalu. 

Untuk orang-orang baik, tetap saling curhat-curhatan, ya, saling berbagi resah, berbagi hal-hal receh dan lucu. Hidup di dunia ini nggak bisa sendiri, asli, kita butuh saling menguatkan. Kalau aku lagi ambyar kalian menguatkan, kalian lagi ambyar aku ada untuk mendengarkan. Kalau lagi happy, saling berbagi kebahagiaan.

4. Nggak semua orang peduli denganmu namun bukan berarti kamu nggak punya orang baik disekitarmu

Ini aku rasain banget. Ternyata nggak semua orang bakal peduli dengan hidup kita, namun orang-orang yang peduli dengan kita bukan berarti nggak ada. Mereka ada. Bahkan Dia ada untuk kita, Dia yang paling dekat. Mungkin ada yang belum relate dengan hal ini tapi aku menggunakan kata 'kita' karena aku rasa, pasti ada juga yang relate dengan apa yang aku rasakan.

5. Pergi ke profesional

Sewaktu aku mengalami masalah mental, aku pergi ke psikolog dan psikiater. Bagiku, pergi ke profesional sangat membantuku dalam menangani masalah mental yang kumiliki. Aku jadi lebih aware mengenai keadaanku.

Aku tahu, pengalaman hidup tiap orang berbeda. Aku pernah lihat di media sosial, perjalanan seseorang yang harus ganti-ganti psikolog sampai menemukan psikolog yang cocok. Layakanya seorang dokter, pergi ke psikolog atau psikiater itu memang cocok-cocokan. Ada orang ke psikolog sekali saja langsung nemu yang cocok, ada juga yang enggak.

6. Sayangi dirimu

Jujur, aku masih belajar akan hal ini. Namun, aku mulai bisa mengenali diriku sendiri setelah sebelumnya sempat kehilangan jati diri. Mengenali diri sendiri adalah proses seumur hidup. 

Terima kasih Ya Allah, aku masih bisa bertahan. Terima kasih sudah menjadikanku versi terbaik dari diriku yang dulu. Tetap semangat, ya, diriku. Maafkan aku yang masih belum mampu menjaga dirimu dengan baik. Aku tidak akan mampu menjagamu dengan baik tanpa bantuan dari-Nya. Aku akan berusaha menjagamu dengan baik.

Aku mulai bisa menyayangi diriku sendiri, menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diriku. Rasanya ini tidak mudah. Kita dengan mudah bisa mencintai orang lain namun dengan diri sendiri sulit. Aku tahu, tiap orang memiliki perjalannya masing-masing untuk sampai bisa di tahap self love.

7. Mulai menemukan prinsip hidup

Dulu aku nggak ngerti dengan yang namanya prinsip. Sewaktu ditanyai prinsipku apa, aku malah nggak ngerti apa yang disebut dengan prinsip dan pendirian. Saat ini, ketika aku lebih aware dan mengenali diri sendiri, aku jadi tahu, diriku yang dulu adalah orang yang belum mempunyai prinsip dan gampang terbawa arus.

Prinsip hidupku sederhana dan kebanyakan nggak jauh-jauh dari agama. Meski demikian, bukan berarti aku orangnya sudah religius dan spiritual. Aku masih jauh dengan hal itu. Namun, aku akan berusaha untuk terus berada di jalan-Nya meski aku masih banyak dosa.

8. Belajar mempunyai batasan diri

Aku mulai belajar mengenai batasan diri. Memang belum sepenuhnya bisa aku terapkan, pelan-pelan aku belajar mengenai batasan diri. Belajar cut off orang-orang red flag dan toxic. Belajar membatasi orang yang memiliki prinsip berbeda denganku. Aku akan terus belajar mengenai self boundaries.

Aku pikir, mempunyai batasan bukan berarti kita membenci orang tersebut atau tidak suka kepada orang tersebut, namun lebih kepada membatasi akses orang tersebut untuk masuk ke dalam hidup kita.

9. Terbuka dengan orang-orang yang peduli

Ini nyambung sama poin 4 tentang nggak semua orang peduli denganmu namun bukan berarti kamu nggak punya orang baik disekitarmu. Dulu, aku orangnya tertutup banget, lebih banyak aku pendam sendiri. Saat ini aku belajar terbuka dengan orang-orang yang peduli denganku. Belajar terbuka kepada-Nya. Tempat ter-safe untuk curhat adalah Allah. Dia yang tidak akan menghakimi dan Dia yang paling mengerti.

Lalu, safe place kedua untuk curhat adalah orang-orang yang peduli dan yang dipercayai, yang ketiga bisa orang yang dipercaya lainnya yang berkompeten dan bisa dipercaya untuk menjaga cerita kita seperti pemuka agama atau psikolog dan psikiater 

10. Belajar tentang kemelekatan

Pada dasarnya, semua manusia nanti akan kembali kepada-Nya. Banyak hal yang menyadarkanku bahwa terlalu melekat kepada manusia dan dunia hasilnya akan mengecewakan. Dari kesadaran ini aku jadi belajar untuk mengurangi kemelekatan kepada manusia dan dunia supaya hatiku tenang.

Sumber ketenangan di dunia adalah dekat dengan-Nya. Meski harus mengurangi kemelekatan, bukan berarti kita tidak minta tolong kepada manusia. Namun, andalkan Dia terlebih dahulu supaya tidak kecewa.

Aku tahu, aku akan tetap sedih jika kehilangan orang-orang yang kusayangi. Namun, dengan menyadari bahwa terlalu melekat kepada seseorang atau apa pun di dunia itu nggak baik, aku jadi lebih sadar, kalau hidup harus tetap berjalan kayak lagunya Bernadya.

11. Belajar bijak bermain media sosial

Terkadang, aku capek bermain media sosial. Aku suka baca cerita orang-orang yang cerita mengenai masalah hidup mereka di X (Twitter). Cuma baca doang, ternyata energi dari mereka sengaruh itu didiri aku. 

Aku pikir, dengan baca cerita mereka bisa belajar dari kisah hidup mereka. Tapi ternyata malah ikutan capek sendiri dengan masalah orang lain yang nggak dikenal. Dari hal tersebut, aku jadi pengen belajar untuk social media detox biar nggak terpengaruh hal negatif yang ada di media sosial.

12. Jadi orang pemaaf dan tidak jadi seorang pembenci dan pendendam

Semua orang pasti pernah mengalami hal menyakitkan dalam hidup mereka. Setidaknya itu yang kusadari. Dari hal tersebut, aku belajar untuk memaafkan. Aku pernah tertampol dengan sebuah perkataan yang intinya gini, "ada seseorang yang menjadi cerita menyakitkan di dalam hidup kita. Namun, kita sendiri juga menjadi cerita menyakitkan di dalam hidup orang lain."

Kalau nggak salah, aku dapat perkataan ini waktu ikut webinar Sebelum Kau Tiba yang diselenggarakan oleh mbak Rahma Nur Fadilah (@___rnf), seorang penulis dan content creator, lalu ada pemateri lain yaitu mbak Nasywa Alfiyyah (@nasywalf), beliau seorang psikolog anak. Webinar ini membahas mengenai cara pulih dari luka masa lalu dan masa kecil.

Perkataan di atas yang nampol itu kalau nggak salah adalah perkataan dari mbak Rahma. Terima kasih atas webinarnya, sangat bermanfaat. Memang benar. Disadari atau tidak, bisa jadi kita pernah menyakiti hati orang lain.

"Memaafkan adalah proses seumur hidup" kalau kata temanku. Jadi nggak apa-apa kalau masih up and down dalam memaafkan seseorang, yang penting sudah ada niatan dan mau belajar. Semoga suatu saat nggak up and down lagi.

Selain yang sudah aku sebutkan, terdapat pelajaran lain yang aku dapat seperti masa lalu tidak menentukan masa depan kita, sedikit teman nggak apa-apa asal peduli sama kita, ngingu kucing adalah salah satu cara menjaga kesehatan mental, memelihara hewan lain juga, sih, disesuaikan aja sama hewan yang disukai atau hal-hal yang disukai lainnya. Lalu, belajar dari pengalaman hidup orang-orang sekitar, nggak harus dari orang terkenal.

Belajar untuk menerima jika ada orang yang nggak suka atau benci sama kita. Asli, aku masih suka sedih tentang hal ini, tapi aku selalu ngingetin ke diri sendiri, sekelas Rasulullah aja masih ada yang benci sama beliau.

Aku yang hanya salah satu topping dalam semesta ini, tentunya ada aja yang nggak suka atau benci sama aku even aku tahu atau nggak tahu. Belajar untuk it’s okay kalau ada orang yang nggak suka atau benci sama aku, sedih nggak apa-apa, tapi ingat, kita sendiri nggak bisa mengontrol orang lain mau apa.

Belajar untuk rajin baca buku, nggak cuma rajin beli doang. Belajar untuk menikmati momen-momen saat ini sebelum waktunya habis. Dan, masih banyak pelajaran-pelajaran lain yang kudapat di tahun ini. 

Aku tahu, aku akan terus belajar karena yang kusebutkan tadi belum sepenuhnya bisa aku terapkan dengan baik. Meski demikian, alhamdulillah di tahun ini aku mendapatkan sebuah pelajaran-pelajaran berharga.

Terima kasih Ya Allah, Engkau selalu baik sama aku. Untuk siapa pun yang mungkin di tahun ini belum menjadi tahun yang baik bagimu, aku doakan semoga tahun depan adalah tahun yang baik bagimu.

Semoga tahun depan lebih baik lagi dan aku menjadi lebih baik lagi dari diriku saat ini. Semoga tahun depan kita semua dan yang baca tulisan ini menjadi lebih baik lagi. Dan, semoga kita semua dikuatkan oleh-Nya jika harapan kita tidak sesuai dengan ekspektasi.

#selfreminder


────୨ৎ────


Omong-omong, YouTube channel Perfectdiin adalah salah satu YouTube channel kesukaanku. Mbak-mbak pemilik YouTube channel tersebut mengajarkan orang untuk hidup quiet living berdasarkan buku underrated yang sudah dibuktikan oleh orang berpengaruh di dunia.

Siapa tahu ada yang mau mampir ke channel beliau, bisa klik linknya di sini.


Komentar

  1. Bagus sekale, suka aja bacanya, jadi bisa intropeksi diri dan belajar bisa lebih sayang terhadap diri sendiri,, tulisan ini sangat bermanfaat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciye mampir. Makasih kakak. Baca tulisan-tulisanku di blog ini, ya, hehehe (promosi).

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Suara Hatiku tentang Gaza

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans