Ngomongin Film Sekawan Limo

 


Source: Google


Sinopsis Film Sekawan Limo (dari google)

Bagas, Lenni, Dicky, Juna, dan Andrew dipersatukan ketika mendaki Gunung Madyopuro. Penjaga pos pendakian mewanti-wanti : Rombongan harus genap dan dilarang menoleh ke belakang atau akan ada yang mengikuti! Mereka gagal mematuhi mitos, dan sepanjang perjalanan terus menerus dihantui. Setelah tersesat hingga malam 1 Suro, akhirnya mereka sadar kalau dari berlima salah satu bukan manusia, dan mulai saling tuduh siapa yang hantu di antara mereka?

Awal melihat film ini aku merasa biasa aja, tidak ada yang spesial. Tapi ketika Pak Ipin atau yang akrab di sapa Gus Ipin (Mochamad Nur Arifin) main di film ini, jadi salfok aja, bupati Trenggalek ikutan main di film ini.

Menurutku, film ini bagus ketika mendekati pertengahan film, sudah muncul berbagai konflik sampai film ini selesai. Aku sempet nangis waktu adegan Dicky di akhir film yang berdialog sama hantu atau bisa dikatakan itu adalah bentuk ketakutan dan masalah dia selama ini.

Film ini mengisahkan, jika setiap orang yang mendaki sebuah gunung memiliki tujuan mereka sendiri-sendiri. Tujuan tersebut bisa berasal dari problematika kehidupan mereka. Ada yang naik gunung ingin healing, ada yang ingin mencari pesugihan dan seterusnya.

Di film ini juga mengajarkan kalau mau naik gunung sebaiknya mengikuti jalur yang sudah ada. Jangan mencoba membuat jalur pendakian baru, bisa bahaya. Harus menjaga sikap jika di gunung, karena setiap gunung memiliki mitosnya masing-masing. Pendaki diharap untuk menghormati dan tidak melanggar mitos yang ada di sebuah gunung.

Permasalahan di film Sekawan Limo relate dengan permasalahan saat ini. Isu-isu yang diangkat relate dengan permasalahan saat ini. Film ini mengajarkan kita untuk berempati sekalipun orang tersebut pernah berbuat salah, namun salah tersebut bisa diperbaiki dengan cara menjadi orang yang lebih baik lagi.

Belajar dari kesalahan, belajar move on dari masa lalu, tidak menyalahkan diri sendiri. Itulah yang diajarkan dari film ini. Pesannya sangat sampai.

Untuk siapa yang hantu di film ini, sebenarnya sudah ketebak melalui clue clue yang ada. Namun, penonton sempat dibuat bingung, akhirnya berspekulasi jangan-jangan apakah dia, apakah dia. Namun ketika di ending tebakan menjadi benar, tidak kaget lagi bahwa ternyata dia yang hantu.

Untuk tingkat seram, menurutku film ini tidak seram sama sekali. Untuk tingkat komedi, menurutku film ini komedinya sangat dapat. Sewaktu menonton film ini, aku malah tertawa-tawa, bukannya takut.

Komedinya khas Jawa Timuran banget, khususnya daerah Surabaya dan sekitarnya yang pakai bahasa kasar jancok. Bahasa di film ini full pakai bahasa Jawa Suroboyoan. Terdapat subtitle bagi penonton yang belum mengerti bahasa Jawa.

Ada komedi yang mengarah ke face shaming, tapi jika kita orangnya tidak baperan, tidak akan terganggu dengan bentuk komedi yang seperti itu. Jadi untuk ini tergantung pendapat masing-masing mengenai bentuk jokes dalam komedi.


Fun fact

Film ini sembilan puluh persen syuting di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur dan sepuluh persennya ada di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Mungkin masih ada juga tempat syuting di daerah lain, namun mayoritas syutingnya di Trenggalek.

Untuk Gunung Madyopuro yang ada di film ini, ternyata gunung tersebut adalah gunung fiksi, bukan gunung nyata. Untuk selengkapnya mengapa Bayu Skak memilih gunung fiksi untuk film Sekawan Limo dan kenapa lokasi syutingnya ada di Trenggalek - Tulungagung, bisa ditonton penjelasannya di sini.

By the way, di film ini kampusnya si Bagas sama Lenni itu di Universitas Negeri Malang (UM). Kayaknya di film-film Bayu Skak lain seperti Yowis Ben juga kampusnya ada di UM (cmiiw). Aku jadi mikir, cinta almamater sekali mas Bayu ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Suara Hatiku tentang Gaza

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans