Dari Parasite, Silenced, Hingga Kim Ji Young Born 1982

 





Kim Ji-young yang dari masa kecil kehidupannya selalu dipenuhi oleh patriarki dan seksisme. Ia juga pernah mengalami pelecehan seksual. Saat ku baca mengenai apa itu depresi postpartum, salah satu penyebab ibu setelah melahirkan dapat terkena depresi tersebut karena dulunya pernah mengalami pelecehan seksual.

Aku menemukan banyak kesamaan antara permasalahan dan budaya Korea Selatan dengan permasalahan dan budaya yang ada di Indonesia.

Pada film Parasite, diperlihatkan kaum bawah di Korea Selatan yang hidup sangat miskin, dan tinggal ditempat yang sempit. Mereka numpang WiFi tetangga yang lebih kaya, tanpa sepengetahuan si pemilik. Mereka dengan mudah bisa mengetahui password WiFi tetangga mereka. Di Indonesia hal ini sering dilakukan oleh orang-orang kaum menengah ke bawah. Itu sudah biasa terjadi.

Bisa dibilang, kehidupan yang mereka jalani benar-benar seperti parasit.

Saat ada pengasapan (fogging) di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Mereka membiarkan pengasapan itu masuk ke dalam rumah mereka, padahal rumah mereka tidak memperoleh pengasapan. Mereka berpikir, dengan begitu mereka bisa mendapatkan pengasapan gratis.

Rumah mereka berada di bawah. Mungkin tidak akan kelihatan dari jalanan. Seringkali terdapat seorang gembel yang tidak tahu jika terdapat rumah di bawah jalanan, dia kencing di jendela rumah tersebut. Mungkin gembel tersebut berpikir jendela rumah mereka adalah lubang selokan.

Saat banjir pun, rumah mereka tidak terselamatkan. Dari film Parasite ini aku jadi tahu kalau Korea Selatan pun bisa terkena banjir. Biasanya dalam drama Korea Selatan, aku belum pernah menemukan drama yang menampilkan cerita tentang banjir.

Sehingga ku berpikir, negara Korea Selatan pasti negara yang selalu bagus dan bersih. Aku hanya penasaran, apakah tidak ada kawasan kumuh di Korea Selatan. Atau mungkin kawasan itu hanya sedikit, dan tidak terekspos. Kurasa pasti ada kawasan untuk kaum bawah di Korea Selatan, karena film Parasite telah menunjukkannya.

Film selanjutnya, yaitu Silenced, diperlihatkan bahwa yang mempunyai uang, merekalah yang akan menang. Hukum dengan mudah bisa dibeli.

Polisi, pengacara dan para pelaku pelecehan seksual yang ada dalam film tersebut benar-benar orang-orang dari kalangan kotor.

Para pelaku pelecehan seksual menyuap polisi dan pengacara untuk dapat lolos dari hukuman. Pengacara yang membela korban pun dapat dibeli, sehingga pada akhirnya malah berpihak kepada pelaku.

Bahkan karena image pelaku di publik—sebagai pastor atau pelayan gereja—salah satu dari orang-orang berpengaruh dan terlibat dalam sosial kemanusiaan, citra tersebut membungkam sifat busuk asli pelaku.

Tidak ada perlindungan untuk korban pelecahan seksual yang bisu dan tuli itu. Mungkin, hanya sedikit saja yang percaya dan memihak mereka.

Film terakhir produksi tvN yang ku tonton, yaitu Kim Ji-young Born 1982 menceritakan betapa penyakit mental akibat dari budaya patriarki dan seksisme itu benar adanya.

Tidak hanya kaum laki-laki saja yang melakukan patriarki, bahkan sesama perempuan juga melakukan hal itu.

Orang Korea Selatan masih meninggi-ninggikan laki-laki, dan merendahkan perempuan. Berpikir, kodrat perempuan itu adalah bekerja pada bidang domestik saja.

Dalam perusahaan pun masih ada seksisme yang menyayangkan jika perempuan pintar dan cerdas menjadi perempuan. Mereka berkata, harusnya perempuan pintar dan cerdas tersebut terlahir sebagai seorang laki-laki.

Najwa Shihab pernah berkata, kodrat perempuan itu menstruasi dan melahirkan. Memasak, mencuci, dan pekerjaan domestik lainnya itu bukan kodrat perempuan. Laki-laki dan perempuan bisa melakukan hal itu.

Ketiga film tersebut, juga terjadi di Indonesia. Saat ini pun, banyak kasus kekerasan seksual yang muncul, menyebabkan para perempuan merasa tidak aman. Temanku sendiri menjadi merasa takut berada di kawasan publik, karena banyaknya berita mengenai pelecehan dan kekerasan seksual yang menakutkan.

Para polisi dan orang-orang yang bekerja di bidang kemasyarakatan yang ada di film Silenced sangat mirip dengan apa yang terjadi di negeri ini. Mungkin di negara lain pun juga sama.

Aku sering menghadapi ini, bahkan dilingkungan kecil seperti kantor kepala desa. Atau melihat di jalanan. Para polisi yang memakai mobil layanan masyarakat, hanya berfoto dengan masyarakat bawah. Aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan.

Apakah mereka akan menjadikan foto itu sebagai laporan bahwa mereka telah melayani masyarakat dengan baik. Yang mereka lakukan hanya berfoto saja. Bahkan, saat ada pengemis di depan mata mereka. Mereka tidak peduli.

Hal ini juga sering terjadi. Saat kita melaporkan sesuatu, orang-orang yang bekerja di bidang kemasyarakatan itu malah tidak bisa membantu, dan melempar-lemparkan masalah kita ke orang lain.

Lembaga A merasa tidak bisa menangani kasus yang kita laporkan karena bukan ranahnya. Mereka menyarankan untuk melapor kepada lembaga B. Namun, saat kita melapor kepada lembaga B, lembaga tersebut menyarankan pelapor untuk melapor kepada lembaga A karena lembaga B merasa bahwa kasus tersebut bukan ranahnya.

Ketiga film ini akan berhasil menguras emosi kita. Aku sangat merekomendasikannya bagi kamu yang belum menontonnya.

Film yang berhasil menguras emosiku yang pertama adalah Silenced, yang kedua adalah Kim-ji Young Born 1982 dan yang ketiga adalah Parasite.

Menonton ketiga film itu dapat membuat kita merasa marah pada ketidakadilan. Dari film ini, kita juga menjadi diingatkan, bahwa kita hidup di dunia yang fana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book Mas, Mau Cari Istri Atau Pembantu?

Suara Hatiku tentang Gaza

Review Broken Strings - Aurélie Moeremans