Review Pulang - Leila S. Chudori

 


Source

Pulang - Leila S. Chudori ‧₊˚ ⋅πŸŒΏπŸŒ±π“‚ƒ ࣪ ִֶָ.

Pulang membuatku campur aduk ketika membacanya. Buku ini menceritakan mengenai sejarah tahun 1965, dimana terdapat karakter bernama Dimas Suryo menjadi eksil politik di Paris karena dituduh bagian dari PKI.

Buku ini memiliki banyak POV. Pembaca dibawa kepada beratnya menjadi seorang eksil politik di luar negeri, banyak orang pada masa orba sebenarnya bukan bagian dari PKI namun tetap ditahan, diburu, dieksil hingga dicap sebagai musuh negara.

Cap eks tapol menyulitkan mereka mencari pekerjaan, didiskriminasi oleh masyarakat, hidup seluruh keluarga dan anak keturunan seakan-akan bagian dari dosa sejarah.

Buku ini menyingkap sejarah pahit bangsa Indonesia, khususnya tahun 1965 dan 1998. Bahwa yang terjadi pada masa itu tidak bisa dilabeli hitam dan putih. Dari Pulang kita akan tahu, apakah sebenarnya PKI sejahat itu, atau korban kambing hitam pemerintah.

Buku ini menceritakan propaganda pemerintah orba yang menanamkan bahwa PKI adalah musuh negara. Salah satunya dengan pemutaran film G30S/PKI yang harus ditonton berjamaah, pembungkaman pers, oposisi, dan lain-lain.

Jujur, buku ini berat bagiku. Apa lagi aku masih awam dengan sejarah dan politik di Indonesia. Menurutku, membaca buku ini tidak otomatis menjadi kiri, melainkan pembaca diajak berempati, belajar sejarah, disuguhi betapa kacau balaunya politik pada masa itu karena orang-orang yang hanya ingin tahta dan kuasa.

Pulang tidak mengajarkan untuk membenci, Pulang mengajarkan bahwa kita harus lebih berempati dan jangan berpandangan hitam putih akan suatu hal.

Dari Pulang aku bisa tahu kalau sejarah yang selama ini diajarkan disekolah, dibuku LKS dan paket itu adalah sejarah yang ditulis oleh "pemenang", if you know you know.

Jujur, buku ini menyentilku bahwa di zaman dulu masih banyak masyarakat Indonesia yang awam sejarah atau tahu sejarah Indonesia hanya dari propaganda. Ternyata dari dulu dan sekarang masyarakat Indonesia pun sama, masih minim literasi. 

Banyak masyarakat Indonesia tidak belajar sejarah, entah karena propaganda, menutup rapat-rapat karena trauma, atau tidak lagi peduli.

Aku salah satu dari mereka yang masih awam sejarah dan politik itu. Meski demikian, membaca buku ini membuatku belajar sejarah dan lebih mencintai negaraku yang ternyata historisnya penuh luka.


Rating : 4,5 / 5 ⭐⭐⭐⭐✨



Nyoba-nyoba desain di Canva 🀩

Komentar

  1. PKI ga baik2 banget, mereka hanya ingin mempertahankan ideologi meski caranya itu sangat salah, mereka sudah dapat hukuman meski ga ada yang lebih mending tapi yang paling buruk itu orba menjadikan PKI sebagai kambing hitam.

    Aku suka sekarang banyak penulis yang membuat novel tentang sejarah, apalagi yang jarang diketahui masyarakat. Dikemas dengan baik, sehingga banyak diterima pembaca. Best seller menunjukkan alur ceritanya yang apik. Btw kalau visualnya, jadi ingat film dokumenter eksil 2022 karya lola amaria yang digarap 1 dekade. Hanya saja belum ada di streaming online.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, PKI nggak seratus persen bersih. Ada tuh di bilang peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948 juga ngeri banget. Sesuai yang aku tulis juga, baca buku berbau-bau kiri bukan buat jadi kiri, tapi buat menjadi lebih bijak dalam melihat sesuatu. Ya, nggak adil juga PKI dijadikan kambing hitam sama ORBA, padahal ORBA banyak boroknya juga.

      Emang kalau udah masuk dunia politik nggak ada yang seratus persen bersih. Semua punya kepentingan di situ.

      Sebenarnya novel-novel kayak gini ada udah dari dulu. Pulang ini aja cetakan pertamanya tahun 2012. You know lah, buku kayak gini nggak banyak yang tahu karena pemerintah pengen masyarakat bodoh. Masyarakat nggak boleh baca-baca buku begini karena takut jadi PKI. Padahal nggak gitu konsepnya. Kita ini mau belajar sejarah yang bener, ye, kan, bukan mau jadi Killian, eh, kiri.

      Keren, effort banget satu dekade :o. Terus, nontonnya di mana kalau belum ada di platform streaming online?

      Hapus

Posting Komentar